ETIKA BISNIS ISLAM DALAM MASALAH OVERCLAIM BRAND SKINCARE DI MEDIA SOSIAL
ETIKA BISNIS ISLAM DALAM MASALAH OVERCLAIM BRAND SKINCARE DI MEDIA SOSIAL
Naurah Talitha Tsany
3A Manajemen Bisnis Islam
Etika bisnis islam adalah suatu moral dalam menjalankan sebuah aktivitas bisnis yang mengimplementasikan nilai ajaran agama islam, yang mana aktivitas bisnis ini tidak usah memikirkan kerisauan yang menyebabkan kecemasan, karena sudah dianggap sebagai hal yang baik dan benar, etika bisnis islam ini tentu merujuk pada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebgai rujukan dan langkah dalam pengimplementasian bisnis yang baik dan benar. Yang dimana pada kegiatan bisnis ini banyak sekali menerapkan kebaikan yang menimbulkan kemashlahatan bagi banyak orang khususnya bagi para konsumen.
Dengan demikian, etika bisnis islam yaitu cara-cara untuk menjalankan kegiatan bisnis sesuai dengan ajaran islam dam mencakup semua aspek yang berkitan dengan individual, perusahaan, industri, maupun masyarakat umum.
Overclaim merupakan klaim atau pernyataan yang berlebihan atas sesuatu. Banyak juga yang beranggapan bahwa overclaim itu sama dengan pernyataan yang disengaja dan dikarang oleh pihak usahanya.
Overclaim yaitu pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta yang ada, sehingga mengakibatkan kerugian bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Overclaim juga sering disebut sebagai pernyataan yang dibuat-buat.
Perlu diingat, Skincare Overclaim merupakan sebuah produk ataupun brand yang mengklaim kandungan yang ada di dalam skincare tersebut tidak sesuai dengan hasil uji lab. Kejadian ini membuat para pengguna skincare merasa dibohongi dan dirugikan oleh iklan-iklan yang tersebar di media sosial yang mana mereka menyebutkan hasil yang sangat memuaskan.
Media sosial adalah sebuah platform digital yang menyediakan fasilitas untuk menjalankan kegiatan sosial bagi orang yang menggunakannya. Contoh kegitan yang dilakukan di media sosial, contohnya : melakukan komunikasi dan memberikan informasi yang berupa tulisan, foto, dan video. Semua informasi dalam konten dapat dilihat oleh semua pengguna dalam waktu 24 jam.
Akhir-akhir ini, sosial media sedang dihebohkan dengan munculnya sosok “Dokter Detektif” atau sering disebut “Doktif” yang dikenal sebagai pembongkar kandungan yang ada di dalam produk kecantikan, terutama skincare. Dalam beberapa video kontennya, Doktif sering melakukan review kandungan kimia yang terkandung di beberapa prosuk skincare.
Doktif sering membagikan video di akun TikTok @dokterdetektif untuk review kandungan kimia dalam beberapa merek skincare, bahkan juga menunjukan hasil uji lab sebagai dasar mennyatakan zat berbahaya dalam sebuah produk skincare. Menurut Doktif, hasil uji lab tersebut diklaim akurat karena menggunakan metode uji Ultra Performance Liquid Chromatography (UPLC).
Kemunculannya sangat disambut baik oleh netizen, karena sangat membantu para pengguna skincare untuk lebih berhati-hati memilih produk perawatan/kecantikan. Namun ada juga yang kontra atas munculnya Doktif dan mendapatkan tentangan dari sejumlah pemilik brand skincare yang tidak terima dengan informasi yang disampaikan olehnya.
Banyak sekali produk skincare yang bermunculan disesuaikan dengan masalah kulit atau kebutuhan pengguna. Dengan bahan yang berbahaya seperti merkuri hingga hidroquinon berkadar tinggi yang jangka panjang bisa berdampak buruk pada tubuh hingga memicu kanker. Dokter Detektif menyebutkan jika tujuannya membongkar kecurangan para pemilik brand skincare adalah untuk memberitahu kepada para pengguna skincare dan untuk ke depannya owne-owner lebih jujur dan tidak merugikan para konsumen.
Produk skincare ditemukan melebih-lebihkan manfaat yang terkandung pada produk yang nyatanya kandungan yang ada didalamnya tidak sesuai dengan kemasan ataupun iklan.
Contohnya, produk skincare yang menjual serum dengan kandungan niacinamide 10%. Tapi kenyataannya persentasenya hanya menunjukan 3%.
Produk-produk yang overclaim anatara lain:
1. Azarine
Produk Azarine diduga overclaim setelah produknya, Azarine Niacinamide 10% + Dipotassium Glycyrrhizate Glorius Serum ini ternyata hanya mengandung 0,45% niacinamide berdasarkan hasil uji laboratorium. Selain itu, Dokter Detektif juga mengatakan produk Azarine Retinol Smooth Glowing Serum. Kandungan retinol di dalam produk ini sebesar 1 ceramide dan resveratrol. Namun, Dokter Detektif mengungkap kandungan dari produk 1% rupanya hanya 0,00096% hanya retinol saja di dalamnya.
Setelah Doktif mengungkap pernyataan tersebut, pihak Azarine kemudian buka suara. Pihak Azarine meminta maaf atas perbedaan hasil uji laboratorium yang mungkin terjadi akibat faktor eksternal / PT yang membuat prosuk tersebut.
2. Daviena
Produk Daviena juga masuk ke jajaran merek skincare overclaim. Daviena Sleeping Mask Retinol Booster memiliki kandungan Actosome Retinol 2%. Namun, dari hasil uji laboratorium ternyata kandungan tersebut tidak sesuai. Yang ternyata, Daviena Sleeping Mask Retinol hanya mengandung 0,03% Pure Retinol atau setara dengan 1% Actosome Retinol.
Doktif juga mengatakan brand ini bukan lagi overclaim melainkan sudah falseclaim. Yang mana false claim bersifat lebih serius dan patut diwaspadai karena merujuk pada klaim yang sepenuhnya tidak benar atau bersifat menyesatkan. Klaim ini tidak dapat dibuktikan dan sepenuhnya dianggap sebagai sebuah upaya untuk menarik sekaligus menipu konsumen.
Tapi owner dari Produk ini selalu membela diri dan selalu membalikan fakta. Owner ini tidak terima atas pernyataan yang dilontarkan oleh Dokter Detektif.
3. SSSKIN
SSKIN merupakan produk skincare milik Shella Saukia. Produknya, SSKIN Retinol Serum yang diklaim mengandung 1% retinol ternyata tidak sesuai dengan hasil uji lab.Ternyata, kandungannya hanya 0,0054% dari klaim yang disebutkan.
Dari pihak SSSKIN sudah meminta maaf dan malah berterimakasih kepada Doktif melalui video klarifikasi yang diunggah di Tiktok yang sudah mengkritik dan memberikan sarannya dan mereka akan memperbaiki lagi produknya.
4. Originote
Brand ternama Originote juga masuk ke dalam daftar skincare overclaim selanjutnya. Produknya, yaitu Gluta Bright B3 Serum yang diklaim mengandung 10% niacinamide yang ternyata terbukti hanya mengandung 4,97%.
Tidak lama setelah itu, Originote pun menyampaikan permintaan maaf dan akan melakukan pengujian ulang untuk memastikan kebenaran klaim produk tersebut.
5. Bioaqua
Produknya yaitu Anti Aging Moisturizer yang diklaim mengandung 6% Retinol tapi kenyataannya hanya mengandung 0,000013%.
Bahkan Doktif mengatakan bahwa prosuk ini adalah produk sampah dan menyatakan jika dirinya mejadi bagian BPOM akan mencabut surat edarnya. Doktif sangat geram sekali pada brand ini adalah sangat overclaim sekali.
Dalam kasus diatas tentu saja sangat melanggar etika bisnis terutama kasus ini sudah membohongi bnayak sekali konsumen. Walaupun produk yang overclaim itu tidak dalam artian berbahaya tetapi kasus ini juga sangat merugikan bagi konsumen yang sudah menggunakan produk-produk tersebut yang mana mereka merasa uang yang sudah dikeluarkan menjadi sia-sia karena produknya yang overclaim. Tidak sedikit pula konsumen selalu berkomentar terhadap hasil yang diberikan produk tersebut yang mana setelah pemakaian berbulan-bulan hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan di promosi produk tersebut.
Meskipun kebanyakan owner-owner tersebut sudah membuat video klarifikasi dan permintaan maaf. Tapi, ada juga yang malah membantah dan membela diri, mungkin tujuannya untuk mempertahankan kepercayaannya terhadap konsumen yang sudah membeli produknya.
Dan jika Doktif tidak muncul di media sosial, mungkin para owner brand yang overclaim ini tidak akan meminta maaf kepada para masyarakat terutama pengguna-pengguna produknya. Dapat disimpulkan, berarti mereka yang saat ini sudah meminta maaf kepada publik disebabkan adanya fakta tentang produk mereka. Dan jika tidak ada maka mereka sampai sekarang terus membohongi publik.
Dengan kasus yang sudah beredar dan sudah terjadi ini perlu sangat menjadi evaluasi bagi para pembisnis dan calon pembisnisnya sekaligus. Agar tetap mempertahankan etika-rtika yang ada di dunia perbisnisan. Karena melakukan kecurangan dalam bisnis itu sangat tidak baik dan bagaimanapun para pembisnis berbohong, lama kelamaan akan terungkap seperti halnya kasus diatas.
DAFTAR PUSTAKA
Nabila A’yun, Q. A., Chusma, N. M., Putri, C. N. A., & Latifah, F. N. (2021). Implementasi Etika Bisnis Islam Dalam Transaksi Jual Beli Online Pada E-Commerce Popular Di Indonesia. JPSDa: Jurnal Perbankan Syariah Darussalam, 1(2), 166–181. https://doi.org/10.30739/jpsda.v1i2.998
Nandy. (2024). Pengetian Medis Sosial, Sejarah, Fungsi, Jenis, MAnfaat, Dan PErkembangannya. Gramedia.Com. https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-media-sosial/#A_Pengertian_Media_Sosial
Nurhayati. (2024). Viral, Doktif Detektif Bongkar Skincare Overclaim. Rri.Co.Id. https://www.rri.co.id/kesehatan/1068995/viral-dokter-detektif-bongkar-skincare-overclaim
Prayoga. (2023). Pengetian Etika Bisnis Islam, Prinsip, Tujuan, Dan Manfaatnya. Kumparan.Com. https://kumparan.com/berita-bisnis/pengertian-etika-bisnis-islam-prinsip-tujuan-dan-manfaatnya-1zv92FzlaO7/2
Purwanti, N., & Pujawati, A. (2021). Penerapan Etika Bisnis Islam Dalam Transaksi E-commerce. Jurnal Ilmu Agama, 3(1), 62–77.
Salsabila, A. (2024). 5 Merek Diduga Skincare Overclaim Yang Dibongkar Dokter Detektif, Ada Brand Ternama. Disway.Id. https://disway.id/read/830922/5-merek-diduga-skincare-overclaim-yang-dibongkar-dokter-detektif-ada-brand-ternama/30
Komentar
Posting Komentar