Era Digital: Membebaskan Pikiran atau Mengurungnya dalam Algoritma

 Era Digital: Membebaskan Pikiran atau Mengurungnya dalam Algoritma

Oleh : Tegar Budi Alimni – MBS3A

NIM 235211016

    Di zaman serba digital ini, siapa yang tidak merasa "terbebaskan"? Informasi berlimpah seperti air di samudra, hanya tinggal menunggu ketikkan jari untuk mengaksesnya. Mau belajar, mau belanja, atau bahkan sekadar ingin tahu siapa yang sedang makan di restoran favoritnya—semua bisa dilakukan dalam hitungan detik. Sungguh, ini merupakan era kebebasan yang tak terbatas. Tapi, apakah benar kita bebas? Atau, mungkin kita hanya dikelilingi oleh tembok-tembok tak kasat mata, dibangun oleh algoritma yang lebih pintar dari kita? Cobalah tengok layar ponsel Anda sejenak. Ada notifikasi dari media sosial, iklan yang pas banget dengan kebutuhan (atau keinginan) Anda, bahkan mungkin ada artikel yang muncul tepat ketika Anda sedang berpikir tentangnya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari algoritma yang telah mempelajari setiap gerakan kita, setiap klik, dan setiap ketikan kita. Tentu saja, semua ini dilakukan untuk "mempermudah" hidup kita, menghemat waktu, dan mengurangi kerumitan. Ironisnya, semakin mudah kita hidup, semakin sulit kita berpikir dengan bebas.

 Sementara kita menikmati kenyamanan yang ditawarkan oleh teknologi, kita tanpa sadar mulai dikendalikan oleh keputusan yang bukan kita yang buat. Algoritma merangkum selera kita, memfilter informasi yang masuk ke dalam kepala, dan mengarahkan pandangan kita. Sering kali, apa yang kita lihat adalah apa yang sudah dipilihkan untuk kita, bukan apa yang benar-benar kita pilih. Maka, bisa dibilang, kita "bebas" hanya dalam lingkaran kecil yang sudah ditentukan. Semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin sedikit kebebasan yang kita miliki untuk memilih sendiri. Di satu sisi, era digital menjanjikan kebebasan tanpa batas—akses informasi yang lebih cepat, koneksi yang lebih luas, dan peluang yang lebih banyak. Namun, di sisi lain, kita juga harus mempertanyakan: Apakah kebebasan yang kita nikmati benar-benar "bebas"? Atau justru kita terperangkap dalam perangkap algoritma yang merancang setiap aspek kehidupan kita tanpa kita sadari?

  Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana: Apakah kita benar-benar lebih bebas sekarang ini? Era digital, yang digembar-gemborkan sebagai revolusi besar yang membawa kebebasan informasi, ternyata bisa jadi lebih mirip jebakan dengan hadiah berupa layar sentuh yang bersinar. Semua orang berbicara tentang bagaimana internet memungkinkan kita untuk mengakses berbagai hal—mulai dari tutorial memasak hingga video kucing yang lucu—tanpa batasan. Namun, ada satu hal yang sering terlewatkan dalam euforia ini: Seiring bertambahnya informasi yang kita akses, justru semakin sedikit kendali yang kita miliki atas pilihan kita sendiri.

  Berkaca di tengah hiruk pikuk era yang katanya semua serba “digital”, di mana teknologi harusnya menjadi solusi untuk segala permasalahan manusia, termasuk dalam dunia bisnis. Transformasi digital membawa kemudahan yang tidak terbayangkan sebelumnya: transaksi dapat dilakukan dalam sekejap, bisnis dapat berkembang tanpa batas geografis, dan informasi mengalir bebas. Tapi, apakah kebebasan yang dijanjikan oleh era digital benar-benar membebaskan kita? Atau malah semakin membelenggu kita dalam sebuah sistem yang didesain untuk mengontrol segala keputusan kita? Menurut McKinsey & Company, pada tahun 2020, sekitar 80% perusahaan di dunia mengalami transformasi digital, terutama dalam aspek pemasaran dan penjualan. Ini menunjukkan betapa pentingnya teknologi bagi perkembangan bisnis modern. Bisnis e-commerce, yang dulu terbatas pada toko fisik, kini dapat menjangkau pasar global melalui platform digital. Shopee, Blibli, dan Tokopedia—platform-platform besar ini telah merubah wajah bisnis dengan menghubungkan penjual dan pembeli dari seluruh dunia. Dengan adanya e-commerce, konsumen kini bisa membeli apa saja dari belahan dunia manapun hanya dengan beberapa klik. Semua terasa mudah, cepat, dan tanpa batasan.

      Namun, di balik semua kemudahan itu, kita harus bertanya: apakah kebebasan ini benar-benar bebas? Memang, dunia digital memberikan kita kebebasan untuk memilih apa yang kita ingin beli. Tetapi, kenyataannya adalah pilihan-pilihan itu sering kali bukan berasal dari kita, melainkan dari isstem yang telah dirancang sebelumnya. Menurut penelitian oleh Harvard Business Review, sekitar 80% keputusan konsumen dipengaruhi oleh rekomendasi yang ditawarkan oleh algoritma, baik itu dalam bentuk iklan, produk yang muncul di halaman utama, atau bahkan artikel yang dibaca. Apa yang kita pikir sebagai kebebasan memilih, pada kenyataannya, sudah dipengaruhi oleh data yang dikumpulkan tentang kebiasaan kita, kebiasaan yang bahkan kita sendiri tidak sadar sepenuhnya. Ini adalah gambaran nyata dari dunia digital yang kita hadapi sekarang—banyak pilihan, tetapi sangat sedikit kebebasan untuk memilih secara benar-benar independen. Semua keputusan kita, mulai dari pembelian barang hingga apa yang kita baca atau tonton, sudah dipengaruhi oleh algoritma yang dikendalikan oleh perusahaan besar. Dengan menggunakan data yang terus-menerus dikumpulkan dari perilaku online kita, algoritma ini menyusun daftar rekomendasi yang membuat kita merasa “terpenuhi” tanpa benar-benar diberi kebebasan dalam memilih. 

      Di sinilah kita masuk dalam pembahasan tentang transformasi bisnis syariah. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, dunia bisnis syariah pun tidak lepas dari pengaruh digitalisasi. Platform fintech syariah seperti DuitNow, Alami (platform pembiayaan syariah), dan Tokopedia Salam (e-commerce syariah di server luar) memanfaatkan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang menginginkan transaksi sesuai dengan prinsip syariah—tanpa riba, tanpa gharar (ketidakpastian), dan tanpa unsur haram. Dalam hal ini, digitalisasi menawarkan solusi yang lebih efisien untuk melakukan transaksi bisnis, yang sebelumnya sulit dilakukan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip syariah. Namun, meskipun platform syariah ini menawarkan alternatif yang lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam, mereka juga tidak lepas dari fenomena yang sama: penggunaan algoritma yang memengaruhi keputusan konsumen. Menurut data dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), pasar fintech syariah Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp 5 triliun pada tahun 2023, yang menunjukkan tingginya minat terhadap platform berbasis prinsip syariah. Tetapi, apakah konsumen yang menggunakan platform ini benar-benar bebas memilih produk atau layanan yang sesuai dengan keinginan mereka, ataukah mereka hanya dipandu oleh algoritma yang sudah disesuaikan dengan kebiasaan konsumsi mereka sebelumnya?

    Memang, digitalisasi telah membawa perubahan yang besar dalam dunia bisnis—baik itu dalam sektor e-commerce, fintech, atau crowdfunding syariah. Transformasi ini memungkinkan bisnis untuk berkembang dengan cepat dan efisien, menjangkau pasar global tanpa batasan fisik. Namun, kita harus berhati-hati dengan kebebasan yang diberikan. Apakah itu benar-benar kebebasan dalam memilih, atau justru sebuah ilusi yang tercipta melalui algoritma yang mengarahkan pilihan kita ke arah yang sudah ditentukan sebelumnya? Dengan kata lain, meskipun dunia digital memberikan kita lebih banyak kemudahan dan akses, kita perlu bertanya apakah kebebasan kita dalam memilih—baik itu dalam memilih produk syariah atau sekadar menonton film—adalah hasil dari keputusan yang kita buat sendiri, ataukah sudah diarahkan oleh kekuatan teknologi yang berada di luar kendali kita? Di dunia yang serba terhubung ini, kita mungkin merasa bebas, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kebebasan itu datang dengan harga yang tersembunyi di balik layar algoritma yang terus bekerja tanpa henti.

      Jika dunia digital menawarkan kita kebebasan, maka pertanyaannya adalah: kebebasan apa yang kita dapatkan? Semua hal dalam hidup ini selalu memiliki sisi gelap, bahkan ketika dunia digital menjanjikan segalanya serba mudah dan cepat. Setelah mengurai betapa dunia digital (termasuk platform syariah) dipenuhi dengan ilusi kebebasan yang didorong oleh algoritma, kini saatnya untuk bertanya—apakah ada jalan tengah? Apakah kita bisa mendapatkan manfaat dari digitalisasi tanpa harus kehilangan esensi dari kebebasan itu sendiri? 

      Mari kita pikirkan sejenak. Di satu sisi, kita jelas bisa melihat manfaat luar biasa yang dibawa oleh transformasi digital dalam dunia bisnis. Seperti yang telah kita bahas, e-commerce, fintech, dan bahkan crowdfunding syariah telah membuka peluang baru bagi pelaku bisnis—terutama yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah. Misalnya, fintech syariah seperti Alami dan DuitNowmenawarkan solusi pembiayaan yang tidak hanya lebih efisien, tetapi juga lebih mudah dijangkau oleh masyarakat. Angka transaksi fintech syariah Indonesia bahkan diproyeksikan akan tumbuh lebih dari 30% pada tahun 2025 menurut OJK. Dalam hal ini, teknologi benar-benar memberikan kemudahan dan kesempatan untuk mengembangkan bisnis dengan cara yang lebih ramah prinsip dan lebih terjangkau bagi banyak orang. Namun, di sisi lain, semua kemudahan ini juga datang dengan jebakan tersembunyi—dan kita tidak bisa hanya duduk santai dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Di dunia yang serba terhubung ini, kita dipaksa untuk terus-menerus menerima kenyataan bahwa setiap langkah kita dipantau, setiap keputusan kita dikendalikan oleh algoritma yang bekerja berdasarkan data yang kita hasilkan. Jadi, apakah itu kebebasan? Apakah kita benar-benar memiliki pilihan bebas untuk memilih produk yang sesuai dengan keinginan kita, ataukah pilihan kita telah diarahkan sebelumnya oleh teknologi yang mengendalikan perilaku kita? Ketika kita berbicara tentang kebebasan, kita mungkin hanya mengacu pada kebebasan yang dikemas dalam bentuk kemudahan, namun dibatasi oleh kenyataan bahwa segala keputusan kita diawasi oleh sistem yang lebih besar—sebuah sistem yang memantau kita 24/7.

    Lalu, apakah ada jalan tengahnya? Jika kita ingin merayakan keuntungan dunia digital—baik dalam dunia bisnis maupun dalam penggunaan platform syariah—kita harus mulai berbicara tentang keseimbangan. Di satu sisi, dunia digital telah membawa kita pada titik di mana hampir segala sesuatu bisa dilakukan dengan sentuhan jari—dari membeli produk halal di Tokopedia Salam hingga berinvestasi dalam sukuk syariah melalui platform Bibit. Namun, kita juga perlu mengakui bahwa kebebasan kita dalam memilih produk atau layanan ini bukanlah kebebasan mutlak. Pilihan kita terus dipengaruhi oleh algoritma yang dengan cermat memantau kebiasaan dan preferensi kita. Namun, jalan tengah yang kita cari mungkin tidak harus berupa penolakan total terhadap dunia digital. Sebaliknya,bisa jadi itu adalah bagaimana kita merespons teknologi ini dengan bijak dan sadar. Laporan dari Pew Research Center menunjukkan bahwa meskipun 88% orang di dunia menggunakan internet, hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana data mereka dipergunakan oleh perusahaan teknologi besar. Ini menunjukkan bahwa kita masih banyak yang belum sadar akan pengaruh besar teknologi terhadap kehidupan kita. Oleh karena itu, titik temunya bukanlah dengan menolak digitalisasi secara total, tetapi lebih kepada bagaimana kita menggunakannya dengan kesadaran penuh akan potensi risiko yang menyertainya.

    Jalan tengah ini mungkin terletak pada literasi digital, baik bagi para pelaku bisnis maupun konsumen. Jika kita berbicara tentang platform syariah, misalnya, konsumen dan pelaku usaha syariah harus lebih memahami bagaimana algoritma bekerja dalam platform-platform digital ini. Mereka harus menyadari bahwa meskipun transaksi mereka mungkin sudah sesuai prinsip syariah, cara mereka terhubung dengan konsumen atau produk tertentu tetap dipengaruhi oleh data dan sistem yang mungkin melampaui kontrol mereka. Dalam konteks ini, konsumen yang cerdas adalah konsumen yang tidak hanya memilih berdasarkan apa yang disajikan oleh mesin, tetapi yang juga memahami prinsip dasar dari pilihan mereka—baik dalam hal finansial maupun dalam prinsip moral yang mereka anut. Jalan tengah lainnya bisa berupa kolaborasi antara teknologi dan prinsip etika yang lebih jelas, yang tidak hanya mengutamakan keuntungan semata. Misalnya, pemerintah dan regulator harus lebih tegas dalam membuat kebijakan yang mengatur bagaimana data digunakan oleh platform bisnis, termasuk platform syariah. Dengan kebijakan yang lebih tegas, kita bisa menciptakan dunia digital yang tidak hanya efisien tetapi juga lebih beretika, di mana setiap konsumen bisa merasa aman dalam setiap transaksi yang mereka lakukan.

    Jadi, bisakah kita menemukan jalan tengah antara kebebasan yang ditawarkan oleh era digital dan ketergantungan pada algoritma? Mungkin, jawabannya adalah: kita harus mengubah cara kita memandang teknologi. Alih-alih melihatnya sebagai pembebas mutlak, kita perlu melihatnya sebagai alat yang harus digunakan dengan bijak. Teknologi tidak harus menjadi musuh kebebasan, tetapi jika kita tidak berhati-hati, kita bisa menjadi budak dari kenyamanan yang dibawanya. Dalam dunia digital yang semakin canggih ini, titik tengah adalah pengakuan bahwa meskipun kita bisa mendapat keuntungan dari teknologi, kita harus tetap menjaga prinsip etika, baik itu dalam bisnis syariah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-Commerce Syariah Sebagai Implementasi Nyata Etika Bisnis Islam dalam Dunia Digital

ESG dalam Perspektif Islam : Jalan Menuju Bisnis yang Etis dan Berdaya Guna

Transformasi Bisnis dalam Era Digital: Mewujudkan Platform Syariah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan