Etika Bisnis dalam Perspektif Privasi, Mengupas Term Of Use Adobe Yang Bermasalah
Etika Bisnis dalam Perspektif Privasi: Mengupas Term of Use Adobe yang Bermasalah
Oleh : Abdullah Hilmi Mumtaz
Dalam era digital, etika bisnis menjadi salah satu pilar utama dalam membangun kepercayaan antara perusahaan dan konsumen. Namun, seringkali perusahaan besar menggunakan celah hukum dan praktik yang kurang transparan untuk memanfaatkan data pengguna demi keuntungan mereka. Salah satu contoh yang beberapa waktu teraakhir menjadi sorotan adalah kebijakan Term of Use dari Adobe, yang bertentangan dengan prinsip etika bisnis keamanan data dan privasi pengguna.
Nama Adobe selalu berada di puncak daftar ketika seseorang mencari aplikasi untuk keperluan editing foto ataupun video. Sebagai pelopor dan pemimpin industri sejak tahun 1987, Adobe telah merevolusi cara kita menciptakan, memodifikasi, dan menyempurnakan karya visual. Dengan perangkat lunak ikonik seperti Photoshop dan Premiere Pro, Adobe tidak hanya menjadi alat bagi para profesional, tetapi juga simbol inovasi yang mengubah cara dunia memandang kreativitas. Namun akhir ini Adobe menjadi sorotan terkait kebijakan Term of Use baru dari Adobe.
Masalah ini bermula pada awal bulan Juni 2024 dimana pengguna adobe mendapat notifikasi perubahan Term of Use yang menjelaskan adobe dapat mengakses konten pengguna secara otomatis ataupun manual. Yang menjadi masalah, pada notifikasi tersebut tidak ada menu cancel ataupun menu close dan hanya ada satu tombol yaitu Accept and Continue atau “setuju”. Dalam artian Adobe memaksa pengguna untuk wajib setuju dengan Term of Use baru itu. Karena jika tidak setuju aplikasi ini tidak bisa digunakan sama sekali meskipun sudah membayar biaya langganan bulanan maupun tahunan. Tentu aturan baru ini membuat pengguna menjadi kesal.
Kekesalan pengguna semakin meningkat ketika membaca lampiran dari Term of Use baru ini. Disana tertulis bahwa Adobe memiliki hak untuk mengakses foto, video, audio, dokumen, dan segala sesuatu yang diupload, dibuat, diedit dan diekspor menggunakan aplikasi milik Adobe. Tertulis juga bahwa pengguna telah memberikan lisensi non ekslusif atas segala karya yang mereka buat secara Royalty-Free. Dan tertulis di lampiran penguna juga memberikan lisensi atas karyanya untuk bebas dipakai Adobe untuk diproduksi ulang, dipublikasi, di distribusikan, dimodifikasi, dan membuat konten turunannya. Intinya semua konten pengguna Adobe bisa diakses dan digunakan Adobe untuk keperluan mereka. Tentu peraturan baru ini membuka celah yang besar bagi Adobe agar bisa menggunakan data pengguna aplikasinya untuk berbagai hal yang menguntungkan Adobe sendiri.
Ketakutan terbesar bagi pengguna adalah karya mereka digunakan untuk melatih generative AI model milik, Adobe yaitu Adobe FireFly yang juga dijual dengan harga IDR.77.500/bulan. Belum lagi bagi para pekerja di dunia kreatif sepeti Fotografer dan Videografer professioal yang sering menggunakan NDA (Non-Disclosure Agreement) atau perjanjian kerahasiaan yang menyetujui untuk menjaga privasi terkait foto dan video klien. Dengan disetujuinya Term of Use baru Adobe ini maka secara tidak langsung Fotografer atau Videografer akan melanggar perjanjian NDA ini karena pihak Adobe dapat mengakses Konten tersebut.
Setelah ramai dibicarakan oleh masyarakat baik secara langsung maupun di media sosial dan diboikot oleh penggunanya, Adobe merevisi dan mengumumkan klarifikasi atas Term of Use yang baru ini. Tim Adobe kompak mengatakan bahwa data pengguna hanya akan digunakan untuk meningkatkan personalisasi dan peningkatan operasional aplikasi. Dan tidak menggunakan data milik pelanggan untuk melatih generative AI model milik Adobe. Tapi sebagian pengguna menganggap langkah klarifikasi yang dilakukan oleh Adobe ini hanya menjadi alasan untuk menyelamatkan diri.
Dan benar saja, kejanggalan mulai terkuak setelah Adobe menyampaikan klarifikasi. Beberapa hari setelah klarifikasi diumumkan dan ketika para pengguna sudah mulai tenang, muncul didalam Term of Use Adobe pengaturan baru yang menyatakan pengguna menyetujui seluruh kontennya digunakan Adobe untuk keperluan melatih generatif AI milik Adobe. Pengaturan ini berbentuk Opsi yang secara default tercentang sehingga jika pengguna tidak mematikan opsi ini secara manual maka dianggap menyetujui peraturan ini. Opsi peraturan ini juga hanya bisa dilihat jika membuka Term of Use melalui browser web milik Adobe, dan tidak dapat dilihat langsung di Term of Use yang tertera pada aplikasi Adobe. Hal ini seakan akan Adobe ingin menyembunyikan pengaturan baru agar secara tidak sadar pengguna menyetujui peraturan ini.
Pengguna Adobe mulai memanas lagi dan membuat DOJ (Departement of Justice) di Amerika menuntut Adobe secara hukum. Adobe dianggap melakukan tindakan ilegal dengan peraturan yang sengaja disembunyikan yang berkaitan dengan penyalahgunaan data dan privasi milik pengguna. Tindakan adobe ini secara jelas merugikan bagi pihak pengguna.
Beriringan dengan kasus ini pengguna aplikasi Adobe yang mulai muak berlangganan berlomba-lomba untuk membajak aplikasi milik Adobe dan membagikannya secara gratis pada masyarakat umum. Hal ini terjadi karena mereka beranggapan jika membayar tidak bisa memdapat kendali penuh atas aplikasinya lantas kenapa harus membayar?. karena tidak ada bedanya dengan aplikasi bajakan. Bahkan sempat viral di media sosial kalimat “If Buying Isn’t Owning, Then Pirating Isn’t Stealing ” yang jika diartikan dalam bahasa indonesia “Jika membeli tidak berarti memiliki, maka membajak bukanlah mencuri”. Kalimat ini seakan-akan menghalalkan membajak aplikasi milik Adobe.
Dari kasus diatas bisa kita pahami bahwa pentingnya transparansi dan menghormati privasi pengguna dalam dunia digital. Tindakan Adobe menunjukkan risiko dari kebijakan sepihak perusahaan yang dapat merugikan konsumen/pengguna. Protes ini menjadi pengingat bahwa pengguna memiliki kekuatan untuk menuntut perubahan dari perusahaan.
Tindakan Adobe dalam menerapkan kebijakan kontroversial terkait “Term of Use” dapat membawa berbagai dampak negatif, baik dari sisi bisnis, reputasi, maupun kepercayaan konsumen. Dampak ini tidak hanya memengaruhi hubungan Adobe dengan pelanggan tetapi juga potensi keberlanjutan operasional perusahaan dalam jangka panjang.
Salah satu dampak terbesar adalah hilangnya kepercayaan konsumen. Ketika perusahaan lebih memprioritaskan keuntungan di atas menaati etika dalam berbisnis terkait privasi dan keamanan data pengguna, konsumen cenderung merasa dikhianati dan kecewa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan migrasi besar-besaran ke aplikasi editing alternatif yang lain, terutama dari pengguna profesional seperti fotografer, videografer, dan desainer, yang selama ini menjadi pasar utama Adobe.
Selain itu Boikot dari pelanggan akibat kebijakan tersebut bisa berdampak langsung pada pendapatan Adobe. Jika banyak pelanggan memutuskan langganan atau berhenti membeli produk Adobe, hal ini akan berdampak signifikan pada arus kas perusahaan. Selain itu, biaya kampanye pemulihan reputasi setelah kejadian ini, dan investasi dalam pengamanan data tambahan juga dapat menjadi beban finansial tambahan.
Kontroversi ini memberi peluang besar bagi pesaing Adobe untuk memperluas pasar mereka. Perusahaan seperti Affinity, Canva, atau software open-source seperti GIMP dapat memanfaatkan situasi ini untuk menarik pengguna yang kecewa dengan Adobe. Jika Adobe kehilangan pangsa pasar yang signifikan, posisinya sebagai pemimpin industri dapat terancam. dan jatuhnya reputasi Adobe ini juga berdampak pada sulitnya Adobe mencari atau mempertahankan mitra bisnis. Menimbang buruknya reputasi Adobe, perusahaan lain akan enggan jika diajak bermitra dengan perusahaan Adobe.
untuk mengatasi dampak negatif dari kebijakan Term of Use yang kontroversial, Adobe perlu mengambil langkah strategis yang tidak hanya menyelesaikan permasalahan saat ini, tetapi juga memulihkan kepercayaan konsumen.
Ada beberapa cara yang barangkali bisa dilakukan Adobe untuk menyelesaikan permasalahan ini dan mengembalikan kepercayaan konsumen. Adobe perlu segera merevisi Term of Use dengan bahasa yang lebih jelas dan transparan. Kebijakan baru tersebut harus menjamin bahwa data dan karya pengguna hanya digunakan sesuai izin yang diberikan, tanpa ada manipulasi tersembunyi. Adobe juga harus menyediakan opsi yang jelas dan mudah diakses bagi pengguna untuk menolak penggunaan konten mereka tanpa memengaruhi pengalaman penggunaan aplikasi.
Langkah lain untuk memperbaiki citra, Adobe dapat memberikan opsi kepada pengguna untuk memilih apakah mereka ingin berkontribusi pada pengembangan AI atau tidak. Opsi ini harus mudah ditemukan, baik di aplikasi maupun situs web. Selain itu, pengguna yang memilih untuk tidak berkontribusi harus tetap dapat menggunakan aplikasi secara penuh tanpa batasan.
Adobe harus secara terbuka mengakui kesalahan dalam penerapan kebijakan ini dan meminta maaf kepada pengguna. Langkah ini menunjukkan itikad baik dan menghormati pelanggan. Selain itu, Adobe dapat memulai dialog terbuka mungkin melalui webinar, forum, atau survei untuk mendapatkan masukan langsung dari pengguna terkait kebijakan privasi yang lebih baik. Dan untuk memulihkan hubungan dengan pelanggan, Adobe dapat menawarkan insentif seperti diskon langganan, akses gratis ke fitur tertentu, atau program kompensasi bagi pengguna yang merasa dirugikan. Langkah ini akan menunjukkan komitmen Adobe untuk memberikan nilai lebih kepada pelanggannya dan lebih baik kedepannya.
Dengan mengambil langkah-langkah ini, Adobe tidak hanya dapat menyelesaikan permasalahan saat ini, tetapi juga membuat landasan yang lebih kuat untuk mempertahankan loyalitas pelanggan di masa depan. Jika solusi ini berhasil diterapkan akan menunjukkan bahwa Adobe adalah perusahaan yang mendengarkan dan menghormati konsumennya
DAFTAR PUSTAKA
Oktapriyana. (2022, Maret). Pengenalan sejarah perkembangan Adobe Photoshop. Diakses pada 3 Desember, 2024 dari https://www.oktapriyana.com/2022/03/Pengenalan-Sejarah-Perkembangan-Adobe-Photoshop.html
IDX CHANNEL. (19 Juni, 2024). Pemerintah Amerika Menggugat Adobe. YouTube https://youtu.be/Sjd98xyEaBU?si=r38ohfO0306-LqzU
Keylearn. (28 Juni, 2024). Orang-Orang pada boikot Adobe, kenapa ya?. YouTube https://youtu.be/b3MriAdZem8?si=m-Gqmjt4HoSEf8oC
Hacker News. (n.d.). If Buying Isn’t Owning Piracy Isn,t Stealing. Diakses pada 3 Desember, 2024, dari https://news.ycombinator.com/item?id=38579899
Komentar
Posting Komentar