Netiket: Pedoman Etika Komunikasi di Platform Media Sosial
Netiket: Pedoman Etika Komunikasi di Platform Media Sosial
Ryana Nimas Hapsari
Netiket, atau "network
etiquette," hadir sebagai pedoman untuk mengatur etika komunikasi di
platform digital. Konsep ini bertujuan untuk menjaga kesopanan, menghormati
privasi, dan membangun komunikasi yang sehat dalam dunia maya. Netiket menjadi
relevan karena media sosial merupakan ruang publik yang harus dihormati seperti
halnya ruang fisik. "Netiket",
juga dikenal sebagai "netiket", berasal dari kata "net",
yang berarti jaringan atau internet, dan "etiquette", yang berarti
etika atau standar yang digunakan dalam komunikasi di dunia siber. Menurut Thurlow,
netiket mencakup perilaku sosial dan etika yang berlaku di media online
(Nasrullah, 2016). Pentingnya memahami netiket atau etika berinternet adalah
karakter individu akan tercermin (Praptiningsih, 2017). Karakter ini dapat
menunjukkan perbedaan antara orang yang beradab dan orang yang tidak beradab
dalam kehidupan nyata.Hal ini karena individu dapat secara bebas menggunakan
media sosial, memposting, ataupun berkomentar. Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa karakter merupakan hal yang penting, yang selalu melekat pada diri
individu. Karakter sendiri berupa nilai-nilai yang unik, baik watak, akhlak,
atau kepribadian yang dimiliki oleh individu. Nilai-nilai ini terbentuk dari
internalisasi berbagai kebijakan yang dianggap benar dan digunakan sebagai cara
mereka melihat, berpikir, bersikap, berbicara, dan berperilaku dalam kehidupan
sehari-hari dalam dunia nyata maupun pada saat menggunakan internet (Siregar et
al., 2022).
Urgensi
memahami netiket sendiri dilatar belakangi oleh banyaknya pengguna media sosial
atau masyarakat yang memanfaatkan internet dalam kehidupan sehari-hari. Menurut
laporan We Are Social, jumlah pengguna internet di Indonesia tercatat sebanyak
212,9 juta pada Januari 2023, dan 167 juta orang menjadi pengguna aktif media
sosial pada Januari 2023, setara dengan 60,4% dari populasi nasional. Jumlah
pengguna aktif media sosial pada Januari 2023 turun 12,57% dari jumlah tahun
sebelumnya, yang sebanyak 191 juta orang. Selain itu, penurunan ini merupakan
yang pertama dalam sepuluh tahun terakhir. Selain itu, orang Indonesia
rata-rata menggunakan internet selama 7 jam 42 menit per hari. Menurut survei
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet di
Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2022, jumlah pengguna internet mencapai
210 juta orang, atau 77% dari populasi Indonesia, sedangkan pada tahun 2023,
jumlah pengguna internet mencapai 215.626.156 orang, atau 78,19% dari
275.773.901 orang. Dengan mempertimbangkan survei periode sebelumnya,
Menurut buku
"Netiquette" tentang pedoman berperilaku di internet menurut Shea
2010, terdapat sepuluh prinsip utama yang harus dipatuhi saat menggunakan
internet adalah sebagai berikut; 1. Ingat bahwa seseorang yang berkomunikasi
dengan kita adalah manusia. 2. Perilaku yang diharapkan saat berkomunikasi
secara online sama dengan berbicara di kehidupan nyata 3. Mengetahui posisi
kita di dunia maya, memahami bagaimana para pengguna lain atau grup bertindak
terlebih dahulu sebelum berpartisipasi, dan hargai waktu dan bandwidth orang lain. 4. Jadikan diri
kita terlihat baik secara online, 5. kualitas tulisan harus sangat diperhatikan
saat berkomunikasi online. 6. Berbagi pengetahuan yang positif di internet. 7.
Bantu mengendalikan perbedaan pendapat 8. Hormati privasi orang lain 9. Tidak
menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepada kita. 10. Memaafkan kesalahan
orang lain. Jika Anda ingin memberi tahu orang lain tentang kesalahan mereka,
lakukannya dengan sopan dan sebaiknya dilakukan melalui komunikasi pribadi
daripada di ruang publik. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip netiket, menjelaskan manfaatnya, serta
memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
etika komunikasi di media sosial.
Konsep netiket (network etiquette)
yang dikemukakan oleh Virginia Shea (2010) dalam bukunya "Netiquette"
memberikan panduan tentang perilaku etis di dunia digital. Shea menjelaskan
beberapa prinsip dasar yang relevan dengan cara kita bermedia sosial saat ini.
Berikut adalah penjelasan poin-poin netiket yang dapat diimplementasikan di
kehidupan sehari-hari agar lebih bijak saat menggunakan internet beberapa cara
untuk menjaga netiket (network etiquette) dalam bermedia
sosial agar tetap sopan, bertanggung jawab, dan menghormati orang lain.
1. Berpikir Sebelum Memposting
Shea
menekankan pentingnya menghormati pengguna lain di dunia digital, yang
tercermin dalam prinsip "Think Before You Post". Ia menegaskan
bahwa pengguna harus memeriksa dampak potensial dari unggahan mereka. Prinsip
ini selaras dengan norma kesopanan dan kehati-hatian, terutama dalam lingkungan
di mana teks dapat dengan mudah disalahartikan. Media digital dan penggunaannya
berada pada aturan yang disebut dengan etika digital. Etika digital hadir untuk
membuat penggunanya memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan aturan dan
norma masyarakat. Namun dalam konteks ini, diterapkan di lingkup digital. Hal
ini sesuai dengan penelitian (Afriani & Azmi, 2020) yang mengungkapkan
bahwa menggunakan etika di media sosial berarti memberikan informasi yang bijaksana
dari sumber yang dapat dipercaya, menghindari penyebaran konten pornografi,
memberikan informasi positif, menghindari penyebaran informasi yang bersifat
SARA, dan menghargai privasi orang lain.
2. Menghindari Ujaran Kebencian
Shea
berargumen bahwa media digital adalah perpanjangan dari masyarakat nyata,
sehingga norma-norma kesopanan tetap berlaku. Prinsip "Remember the
Human" yang ia kemukakan mengingatkan kita untuk selalu memanusiakan
orang lain di balik layar. Ujaran kebencian melanggar prinsip ini karena
mengabaikan empati dan rasa hormat. Namun, beberapa pengguna tidak mengikuti
standar ini saat menggunakan media sosial. Beberapa orang menggunakan media
sosial untuk mengungkapkan kemarahan, kebencian, dan hinaan mereka. Menurut
Delpa & Elysia, 2022. Dengan adanay prinsip-prinsip yang dikemukakan Shea,
diharapkan orang-orang yang menggunakan internet akan lebih bijak, dan dapat
terhindar dari keinginan untuk melakukan hal negatif yang dapat merugikan orang
lain.
3. Menghormati Privasi Orang Lain
Penggunaan
internet telah mendorong masyarakat untuk memiliki akun pribadi, seperti blog
atau akun media sosial lainnya, yang sering dimanfaatkan sebagai ruang pribadi
atau sarana pembentukan identitas baru. Maraknya situs jejaring sosial
menciptakan pola interaksi baru yang melibatkan banyak orang. Namun, kebebasan
dalam berkomunikasi yang tersedia di internet dapat memunculkan masalah,
terutama terkait pelanggaran privasi (Istriyani & Widiana, 2016). Salah
satu pedoman dalam teori Netiquette yang dikemukakan oleh Shea (2010)
adalah "Respect Other People's Privacy." Dalam konteks media
sosial, prinsip ini menegaskan bahwa menyebarkan informasi pribadi orang lain
tanpa izin adalah tindakan yang tidak etis. Shea menekankan bahwa pelanggaran
privasi merupakan salah satu bentuk ketidaksopanan terbesar dalam dunia digital,
yang dapat merusak hubungan interpersonal dan menciptakan konflik.
4. Menyaring Informasi Sebelum
Membagikan
Shea mengingatkan pentingnya "Don't
Spread False Information" sebagai salah satu prinsip inti netiket.
Dalam konteks ini, pengguna media sosial harus memastikan keakuratan informasi
sebelum membagikannya. Penyebaran hoaks bertentangan dengan tanggung jawab
digital yang ia tekankan. Pemahaman terhadap netiket dapat menjadi bekal dan
kesadaran akan tanggung jawab dari informasi yang dibagikan dan jenis konten
yang diposting (Hidayah, 2020).
Selain itu, netiket juga memberikan arahan untuk menyaring informasi sebelum
menggunakan atau membagikannya kembali ke orang lain. Maka dari itu, dibutuhnya
adanya keterampilan dalam literasi media agar mampu memanfaatkan informasi
dengan bijak dan bertanggung jawab sesuai dengan netiket.
5. Bersikap Ramah dan Positif
Prinsip Netiquette
yang dikemukakan oleh Shea (2010), yaitu "Adhere to the Same Standards
of Behavior Online as You Do in Real Life," menekankan pentingnya
menjaga kesopanan dalam interaksi online. Dengan bersikap ramah dan positif,
kita dapat menciptakan ruang yang lebih nyaman untuk semua pengguna,
sebagaimana yang diharapkan dalam kehidupan nyata. Sehingga tidak ada kekerasan
dalam bentuk ujaran, dan hal-hal negative lainnya yang dapat berbentuk verbal
atau tulisan (Santrock, 2016). Shea juga menyebutkan pentingnya "Make Yourself Look
Good Online". Ini tidak hanya berarti menjaga reputasi pribadi, tetapi
juga memahami bahwa setiap platform memiliki norma yang berbeda. Dengan
menyesuaikan konten sesuai konteks dan audiens, kita menunjukkan rasa hormat
terhadap komunitas digital tersebut.
6. Memberikan Kredit pada Sumber
Asli
Prinsip "Acknowledge
the Work of Others" dari Shea sangat relevan dengan isu plagiarisme di
media sosial. Memberikan kredit kepada sumber asli menunjukkan penghormatan
terhadap hak cipta dan kerja keras orang lain. Oleh karena itu, penting bagi
institusi pendidikan untuk memasukkan netiket ke dalam kurikulum mereka,
terutama mengenai isu plagiarism. Hal ini dapat dilakukan melalui seminar,
pelatihan, atau lokakarya (Arouri & Hamaidi, 2017). Tujuannya adalah agar
mahasiswa atau pelajar memahami dan menerapkan setiap aspek netiket (Arouri
& Hamaidi, 2017). Sehingga, pengetahuan bernetiket ini dapat diterapkan
langsung di dunia maya walaupun tidak selalu dalam konteks pendidikan
(Damanhuri & Juwandi, 2020).
7. Tidak Mengunggah Konten yang
Mengganggu atau Tidak Pantas
Shea menegaskan bahwa "Know Where You Are in
Cyberspace" adalah kunci untuk memahami norma yang berlaku di setiap
ruang digital. Mengunggah konten yang tidak pantas melanggar norma tersebut dan
dapat merusak citra diri serta kenyamanan pengguna lain. Tujuan
esensial dari memhami konsep netiket adalah untuk membentuk karakter masyarakat
yang menggunakan sosial media untuk menggunakannya dengan bijak. Seperti
mengunggah konten positif dengan tujuan mengedukasi atau membagikan ilmu.
Sehingga, dengan memahami netiket, individu akan memiliki bekal untuk
mengoperasikan media sosial dengan bijak dan baik (Hidayah et al., 2019).
8. Mengendalikan Diri dalam Diskusi
Online
Prinsip "Don't
Engage in Flame Wars" dari Shea sangat relevan di sini. Ia menyarankan
agar kita tidak terpancing dalam perdebatan emosional atau konflik yang tidak
produktif di dunia maya. Mengendalikan diri membantu menjaga hubungan yang
harmonis. Etika yang ditetapkan untuk berkomunikasi atau berdiskusi melalui
forum online dengan menggunakan internet juga termasuk netiket atau netiquette
(Nilam, 2019)
9. Menggunakan Emoji dan Tanda Baca
dengan Bijak
Shea
menyebut pentingnya "Be Clear and Intelligible" dalam
komunikasi digital. Penggunaan emoji dan tanda baca yang tepat membantu
menyampaikan maksud dengan jelas, sekaligus menghindari salah paham. Sangat
penting bagi pengguna internet untuk mengetahui etika berbicara di internet
menggunakan tanda baca yang benar, emoji yang bijak, dan tutur kata yang sopan.
Keterampilan komunikasi juga memiliki beberapa format
seperti kemampuan verbal, tertulis, dan penggunaan simbol atau emoji (Arouri
& Hamaidi, 2017). Sehingga hal ini dapat mengurangi potensi adanya kerugian
untuk orang lain (Saputra, 2022).
10. Laporkan Konten Tidak Pantas
Prinsip "Help Keep
Cyberspace Clean" dari Shea mendorong pengguna untuk berpartisipasi
aktif dalam menjaga lingkungan digital tetap positif. Melaporkan konten yang
melanggar aturan membantu menciptakan ruang online yang aman dan sehat.
Dalam
kutipan (Siregar et al., 2022) Branson menyatakan bahwa tujuan utama dari netiket sendiri
adalah untuk menjadi panduan dalam bersikap di sosial media yang nantinya akan
dilihat oleh public. Adanya netiket sendiri bertujuan agar masyarakat online
ini dapat menjaga kesopanan, mengikuti aturan ber media sosial seperti
menghormati orang lain, tidak mengganggu orang lain dengan mengunggah konten
yang tidak pantas yang dapat mengganggu kenyamanan orang lain. Untuk itu,
beberapa aplikasi media sosial memberikan fitur seperti “laporkan” atau “report”untuk aktivitas atau postingan
yang dirasa mengganggu kenyamanan atau merugikan mereka.
11. Berempati dan Menghormati
Perbedaan
Shea menggarisbawahi "Remember the Diversity of the
Online Community". Dunia maya adalah tempat bagi berbagai latar
belakang, budaya, dan pandangan. Dengan berempati dan menghormati perbedaan,
kita dapat membangun komunikasi yang lebih inklusif dan saling menghargai.
Banyaknya informasi yang tersebar di internet dan pengguna media sosial,
penerapan netiket dapat bertujuan untuk mengurangi konflik ketika berkomunikasi
atau berinteraksi dengan orang lain melalui media sosial (Amalia, 2015;
Suryatni, 2019). Upaya dalam pengurangan konflik dapat dilakukan dengan
menghormati perbedaan dan tidak menyinggung orang lain dalam ber media sosial.
DAFTAR PUSTAKA
‘Inayah, N. N. (2022). Penguatan Etika Digital Melalui
Materi “Adab Menggunakan Media Sosial” Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik Menghadapi Era Society 5.0. Journal
of Education and learning sciences, 73-38.
Ahyati,
I. U., & Sya’raw, H. (2022). Etika Berinternet (Netiket) Dalam Komunikasi
Daring Di Politeknik Negeri Banjarmasin. Jurnal Intekna, 25-26.
Kussanti,
D. P., Fitriansyah, F., Susilowati, & Harbet, P. (2022). Penyuluhan
Internet Sehat Sebagai Edukasi Dan Informasi Bagi Anggota Fatayat Nu Kecamatan
Ciledug Tangerang. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3425-3426.
Lubis,
R. (2023). Pencegahan Kenakalan dan Kejahatan Remaja di Polda Bali. Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 14.
Orlin,
S., & Lahmuddin. (2023). Revitalization of Civic Disposition to Improve
Digital Ethics in the Era of 5.0 Society at Dharma Patra Private High School
Pangkalan Brandan T.P 2022/2023. Jurnal Nasional Holistic Science,
102-103.
Ridho,
Z., & all, e. (2024). Implementasi Program PELITA: Sosialisasi dan
Pencegahan Cyber Bullying melalui Literasi. Jurnal Pengabdian Masyarakat
Bangsa, 2555.
Saputra,
M. (2022). Integrasi Kewarganegaraan Digital dalam Mata Kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan untuk Menumbuhkan Etika Berinternet (Netiket) di Kalangan
Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6-10.
Netiket, atau "network
etiquette," hadir sebagai pedoman untuk mengatur etika komunikasi di
platform digital. Konsep ini bertujuan untuk menjaga kesopanan, menghormati
privasi, dan membangun komunikasi yang sehat dalam dunia maya. Netiket menjadi
relevan karena media sosial merupakan ruang publik yang harus dihormati seperti
halnya ruang fisik. "Netiket",
juga dikenal sebagai "netiket", berasal dari kata "net",
yang berarti jaringan atau internet, dan "etiquette", yang berarti
etika atau standar yang digunakan dalam komunikasi di dunia siber. Menurut Thurlow,
netiket mencakup perilaku sosial dan etika yang berlaku di media online
(Nasrullah, 2016). Pentingnya memahami netiket atau etika berinternet adalah
karakter individu akan tercermin (Praptiningsih, 2017). Karakter ini dapat
menunjukkan perbedaan antara orang yang beradab dan orang yang tidak beradab
dalam kehidupan nyata.Hal ini karena individu dapat secara bebas menggunakan
media sosial, memposting, ataupun berkomentar. Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa karakter merupakan hal yang penting, yang selalu melekat pada diri
individu. Karakter sendiri berupa nilai-nilai yang unik, baik watak, akhlak,
atau kepribadian yang dimiliki oleh individu. Nilai-nilai ini terbentuk dari
internalisasi berbagai kebijakan yang dianggap benar dan digunakan sebagai cara
mereka melihat, berpikir, bersikap, berbicara, dan berperilaku dalam kehidupan
sehari-hari dalam dunia nyata maupun pada saat menggunakan internet (Siregar et
al., 2022).
Urgensi
memahami netiket sendiri dilatar belakangi oleh banyaknya pengguna media sosial
atau masyarakat yang memanfaatkan internet dalam kehidupan sehari-hari. Menurut
laporan We Are Social, jumlah pengguna internet di Indonesia tercatat sebanyak
212,9 juta pada Januari 2023, dan 167 juta orang menjadi pengguna aktif media
sosial pada Januari 2023, setara dengan 60,4% dari populasi nasional. Jumlah
pengguna aktif media sosial pada Januari 2023 turun 12,57% dari jumlah tahun
sebelumnya, yang sebanyak 191 juta orang. Selain itu, penurunan ini merupakan
yang pertama dalam sepuluh tahun terakhir. Selain itu, orang Indonesia
rata-rata menggunakan internet selama 7 jam 42 menit per hari. Menurut survei
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet di
Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2022, jumlah pengguna internet mencapai
210 juta orang, atau 77% dari populasi Indonesia, sedangkan pada tahun 2023,
jumlah pengguna internet mencapai 215.626.156 orang, atau 78,19% dari
275.773.901 orang. Dengan mempertimbangkan survei periode sebelumnya,
Menurut buku
"Netiquette" tentang pedoman berperilaku di internet menurut Shea
2010, terdapat sepuluh prinsip utama yang harus dipatuhi saat menggunakan
internet adalah sebagai berikut; 1. Ingat bahwa seseorang yang berkomunikasi
dengan kita adalah manusia. 2. Perilaku yang diharapkan saat berkomunikasi
secara online sama dengan berbicara di kehidupan nyata 3. Mengetahui posisi
kita di dunia maya, memahami bagaimana para pengguna lain atau grup bertindak
terlebih dahulu sebelum berpartisipasi, dan hargai waktu dan bandwidth orang lain. 4. Jadikan diri
kita terlihat baik secara online, 5. kualitas tulisan harus sangat diperhatikan
saat berkomunikasi online. 6. Berbagi pengetahuan yang positif di internet. 7.
Bantu mengendalikan perbedaan pendapat 8. Hormati privasi orang lain 9. Tidak
menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepada kita. 10. Memaafkan kesalahan
orang lain. Jika Anda ingin memberi tahu orang lain tentang kesalahan mereka,
lakukannya dengan sopan dan sebaiknya dilakukan melalui komunikasi pribadi
daripada di ruang publik. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip netiket, menjelaskan manfaatnya, serta
memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
etika komunikasi di media sosial.
Konsep netiket (network etiquette)
yang dikemukakan oleh Virginia Shea (2010) dalam bukunya "Netiquette"
memberikan panduan tentang perilaku etis di dunia digital. Shea menjelaskan
beberapa prinsip dasar yang relevan dengan cara kita bermedia sosial saat ini.
Berikut adalah penjelasan poin-poin netiket yang dapat diimplementasikan di
kehidupan sehari-hari agar lebih bijak saat menggunakan internet beberapa cara
untuk menjaga netiket (network etiquette) dalam bermedia
sosial agar tetap sopan, bertanggung jawab, dan menghormati orang lain.
1. Berpikir Sebelum Memposting
Shea
menekankan pentingnya menghormati pengguna lain di dunia digital, yang
tercermin dalam prinsip "Think Before You Post". Ia menegaskan
bahwa pengguna harus memeriksa dampak potensial dari unggahan mereka. Prinsip
ini selaras dengan norma kesopanan dan kehati-hatian, terutama dalam lingkungan
di mana teks dapat dengan mudah disalahartikan. Media digital dan penggunaannya
berada pada aturan yang disebut dengan etika digital. Etika digital hadir untuk
membuat penggunanya memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan aturan dan
norma masyarakat. Namun dalam konteks ini, diterapkan di lingkup digital. Hal
ini sesuai dengan penelitian (Afriani & Azmi, 2020) yang mengungkapkan
bahwa menggunakan etika di media sosial berarti memberikan informasi yang bijaksana
dari sumber yang dapat dipercaya, menghindari penyebaran konten pornografi,
memberikan informasi positif, menghindari penyebaran informasi yang bersifat
SARA, dan menghargai privasi orang lain.
2. Menghindari Ujaran Kebencian
Shea
berargumen bahwa media digital adalah perpanjangan dari masyarakat nyata,
sehingga norma-norma kesopanan tetap berlaku. Prinsip "Remember the
Human" yang ia kemukakan mengingatkan kita untuk selalu memanusiakan
orang lain di balik layar. Ujaran kebencian melanggar prinsip ini karena
mengabaikan empati dan rasa hormat. Namun, beberapa pengguna tidak mengikuti
standar ini saat menggunakan media sosial. Beberapa orang menggunakan media
sosial untuk mengungkapkan kemarahan, kebencian, dan hinaan mereka. Menurut
Delpa & Elysia, 2022. Dengan adanay prinsip-prinsip yang dikemukakan Shea,
diharapkan orang-orang yang menggunakan internet akan lebih bijak, dan dapat
terhindar dari keinginan untuk melakukan hal negatif yang dapat merugikan orang
lain.
3. Menghormati Privasi Orang Lain
Penggunaan
internet telah mendorong masyarakat untuk memiliki akun pribadi, seperti blog
atau akun media sosial lainnya, yang sering dimanfaatkan sebagai ruang pribadi
atau sarana pembentukan identitas baru. Maraknya situs jejaring sosial
menciptakan pola interaksi baru yang melibatkan banyak orang. Namun, kebebasan
dalam berkomunikasi yang tersedia di internet dapat memunculkan masalah,
terutama terkait pelanggaran privasi (Istriyani & Widiana, 2016). Salah
satu pedoman dalam teori Netiquette yang dikemukakan oleh Shea (2010)
adalah "Respect Other People's Privacy." Dalam konteks media
sosial, prinsip ini menegaskan bahwa menyebarkan informasi pribadi orang lain
tanpa izin adalah tindakan yang tidak etis. Shea menekankan bahwa pelanggaran
privasi merupakan salah satu bentuk ketidaksopanan terbesar dalam dunia digital,
yang dapat merusak hubungan interpersonal dan menciptakan konflik.
4. Menyaring Informasi Sebelum
Membagikan
Shea mengingatkan pentingnya "Don't
Spread False Information" sebagai salah satu prinsip inti netiket.
Dalam konteks ini, pengguna media sosial harus memastikan keakuratan informasi
sebelum membagikannya. Penyebaran hoaks bertentangan dengan tanggung jawab
digital yang ia tekankan. Pemahaman terhadap netiket dapat menjadi bekal dan
kesadaran akan tanggung jawab dari informasi yang dibagikan dan jenis konten
yang diposting (Hidayah, 2020).
Selain itu, netiket juga memberikan arahan untuk menyaring informasi sebelum
menggunakan atau membagikannya kembali ke orang lain. Maka dari itu, dibutuhnya
adanya keterampilan dalam literasi media agar mampu memanfaatkan informasi
dengan bijak dan bertanggung jawab sesuai dengan netiket.
5. Bersikap Ramah dan Positif
Prinsip Netiquette
yang dikemukakan oleh Shea (2010), yaitu "Adhere to the Same Standards
of Behavior Online as You Do in Real Life," menekankan pentingnya
menjaga kesopanan dalam interaksi online. Dengan bersikap ramah dan positif,
kita dapat menciptakan ruang yang lebih nyaman untuk semua pengguna,
sebagaimana yang diharapkan dalam kehidupan nyata. Sehingga tidak ada kekerasan
dalam bentuk ujaran, dan hal-hal negative lainnya yang dapat berbentuk verbal
atau tulisan (Santrock, 2016). Shea juga menyebutkan pentingnya "Make Yourself Look
Good Online". Ini tidak hanya berarti menjaga reputasi pribadi, tetapi
juga memahami bahwa setiap platform memiliki norma yang berbeda. Dengan
menyesuaikan konten sesuai konteks dan audiens, kita menunjukkan rasa hormat
terhadap komunitas digital tersebut.
6. Memberikan Kredit pada Sumber
Asli
Prinsip "Acknowledge
the Work of Others" dari Shea sangat relevan dengan isu plagiarisme di
media sosial. Memberikan kredit kepada sumber asli menunjukkan penghormatan
terhadap hak cipta dan kerja keras orang lain. Oleh karena itu, penting bagi
institusi pendidikan untuk memasukkan netiket ke dalam kurikulum mereka,
terutama mengenai isu plagiarism. Hal ini dapat dilakukan melalui seminar,
pelatihan, atau lokakarya (Arouri & Hamaidi, 2017). Tujuannya adalah agar
mahasiswa atau pelajar memahami dan menerapkan setiap aspek netiket (Arouri
& Hamaidi, 2017). Sehingga, pengetahuan bernetiket ini dapat diterapkan
langsung di dunia maya walaupun tidak selalu dalam konteks pendidikan
(Damanhuri & Juwandi, 2020).
7. Tidak Mengunggah Konten yang
Mengganggu atau Tidak Pantas
Shea menegaskan bahwa "Know Where You Are in
Cyberspace" adalah kunci untuk memahami norma yang berlaku di setiap
ruang digital. Mengunggah konten yang tidak pantas melanggar norma tersebut dan
dapat merusak citra diri serta kenyamanan pengguna lain. Tujuan
esensial dari memhami konsep netiket adalah untuk membentuk karakter masyarakat
yang menggunakan sosial media untuk menggunakannya dengan bijak. Seperti
mengunggah konten positif dengan tujuan mengedukasi atau membagikan ilmu.
Sehingga, dengan memahami netiket, individu akan memiliki bekal untuk
mengoperasikan media sosial dengan bijak dan baik (Hidayah et al., 2019).
8. Mengendalikan Diri dalam Diskusi
Online
Prinsip "Don't
Engage in Flame Wars" dari Shea sangat relevan di sini. Ia menyarankan
agar kita tidak terpancing dalam perdebatan emosional atau konflik yang tidak
produktif di dunia maya. Mengendalikan diri membantu menjaga hubungan yang
harmonis. Etika yang ditetapkan untuk berkomunikasi atau berdiskusi melalui
forum online dengan menggunakan internet juga termasuk netiket atau netiquette
(Nilam, 2019)
9. Menggunakan Emoji dan Tanda Baca
dengan Bijak
Shea
menyebut pentingnya "Be Clear and Intelligible" dalam
komunikasi digital. Penggunaan emoji dan tanda baca yang tepat membantu
menyampaikan maksud dengan jelas, sekaligus menghindari salah paham. Sangat
penting bagi pengguna internet untuk mengetahui etika berbicara di internet
menggunakan tanda baca yang benar, emoji yang bijak, dan tutur kata yang sopan.
Keterampilan komunikasi juga memiliki beberapa format
seperti kemampuan verbal, tertulis, dan penggunaan simbol atau emoji (Arouri
& Hamaidi, 2017). Sehingga hal ini dapat mengurangi potensi adanya kerugian
untuk orang lain (Saputra, 2022).
10. Laporkan Konten Tidak Pantas
Prinsip "Help Keep
Cyberspace Clean" dari Shea mendorong pengguna untuk berpartisipasi
aktif dalam menjaga lingkungan digital tetap positif. Melaporkan konten yang
melanggar aturan membantu menciptakan ruang online yang aman dan sehat.
Dalam
kutipan (Siregar et al., 2022) Branson menyatakan bahwa tujuan utama dari netiket sendiri
adalah untuk menjadi panduan dalam bersikap di sosial media yang nantinya akan
dilihat oleh public. Adanya netiket sendiri bertujuan agar masyarakat online
ini dapat menjaga kesopanan, mengikuti aturan ber media sosial seperti
menghormati orang lain, tidak mengganggu orang lain dengan mengunggah konten
yang tidak pantas yang dapat mengganggu kenyamanan orang lain. Untuk itu,
beberapa aplikasi media sosial memberikan fitur seperti “laporkan” atau “report”untuk aktivitas atau postingan
yang dirasa mengganggu kenyamanan atau merugikan mereka.
11. Berempati dan Menghormati
Perbedaan
Shea menggarisbawahi "Remember the Diversity of the
Online Community". Dunia maya adalah tempat bagi berbagai latar
belakang, budaya, dan pandangan. Dengan berempati dan menghormati perbedaan,
kita dapat membangun komunikasi yang lebih inklusif dan saling menghargai.
Banyaknya informasi yang tersebar di internet dan pengguna media sosial,
penerapan netiket dapat bertujuan untuk mengurangi konflik ketika berkomunikasi
atau berinteraksi dengan orang lain melalui media sosial (Amalia, 2015;
Suryatni, 2019). Upaya dalam pengurangan konflik dapat dilakukan dengan
menghormati perbedaan dan tidak menyinggung orang lain dalam ber media sosial.
DAFTAR PUSTAKA
‘Inayah, N. N. (2022). Penguatan Etika Digital Melalui
Materi “Adab Menggunakan Media Sosial” Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik Menghadapi Era Society 5.0. Journal
of Education and learning sciences, 73-38.
Ahyati,
I. U., & Sya’raw, H. (2022). Etika Berinternet (Netiket) Dalam Komunikasi
Daring Di Politeknik Negeri Banjarmasin. Jurnal Intekna, 25-26.
Kussanti,
D. P., Fitriansyah, F., Susilowati, & Harbet, P. (2022). Penyuluhan
Internet Sehat Sebagai Edukasi Dan Informasi Bagi Anggota Fatayat Nu Kecamatan
Ciledug Tangerang. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3425-3426.
Lubis,
R. (2023). Pencegahan Kenakalan dan Kejahatan Remaja di Polda Bali. Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 14.
Orlin,
S., & Lahmuddin. (2023). Revitalization of Civic Disposition to Improve
Digital Ethics in the Era of 5.0 Society at Dharma Patra Private High School
Pangkalan Brandan T.P 2022/2023. Jurnal Nasional Holistic Science,
102-103.
Ridho,
Z., & all, e. (2024). Implementasi Program PELITA: Sosialisasi dan
Pencegahan Cyber Bullying melalui Literasi. Jurnal Pengabdian Masyarakat
Bangsa, 2555.
Saputra,
M. (2022). Integrasi Kewarganegaraan Digital dalam Mata Kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan untuk Menumbuhkan Etika Berinternet (Netiket) di Kalangan
Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6-10.
Komentar
Posting Komentar