Penerapan Prinsip ESG untuk Mengatasi Krisis Etika dalam Perusahaan
Penerapan Prinsip ESG untuk Mengatasi
Krisis Etika dalam Perusahaan
Oleh Muhammad Kareem Abdul Jabbar
Dalam dunia
bisnis, banyak hal yang harus diperhatikan untuk mencapai bisnis yang sukses
dan dapat meraih laba yang sangat besar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan
dalam berbisnis adalah etika dalam berbisnis, mengapa hal tersebut sangat
diperlukan? Etika bisnis sangat diperlukan agar para pelaku bisnis dapat
menghindari perilaku-perilaku menyimpang untuk menghalalkan segala cara demi
kepentingan bisnis pribadi. Di zaman sekarang, banyak sekali pebisnis yang
mengesampingkan etika dalam menjalankan bisnis nya. Hal tersebut dapat memicu
adanya tindakan krisis etika dalam berbisnis. Bisa kita temukan tindakan krisis
etika dalam berbisnis seperti suap menyuap, korupsi, eksploitasi sumber daya,
penipuan,dan masih banyak lagi. Tindakan-tindakan tersebut sangatlah tidak etis
dan sangat merugikan banyak pihak. Tentunya tindakan yang menyimpang tersebut,seharusnya
mendapatkan hukum dan konsekuensi yang berlaku, namun jika kita lihat lebih
jauh, banyak sekali ditemukan kasus dalam krisis etika, seolah-olah pebisnis tersebut
seperti kebal dengan hukum yang ada. Krisis etika dalam berbisnis harus lah
dibenahi karena hal tersebut sangat merugikan banyak pihak dan hanya
menguntungkan satu pihak saja. Agama Islam telah mengajarkan kepada umatnya
untuk memiliki etika saat bermuamalah atau berbisnis. Dalam prinsip islam,
berbisnis bukanlah semata-mata tentang untuk mencari keuntungan saja, namun
juga untuk mencari keberkahan Allah SWT. Etika bisnis sesuai degan prinsip
islam telah diajarkan bagaimana mencapai transaksi yang adil, jujur, amanah dan
bertanggung jawab.
Dalam dunia
pasar yang semakin kompetitif, etika berbisnis semakin dikesampingkan, karena
para pebisnis hanya memikirkan cara untuk mempertahankan bisnisnya saja. Apapun
cara akan dilakukan untuk bisnis nya terus berjalan dan menghasilkan keuntungan
yang besar. Salah satu contoh kasus krisis etika dalam perusahaan adalah dengan
mengabaikan nya prinsip ESG (Enviromental, Social, Governance). ESG sendiri
merupakan sebuah kerangka konsep untuk mengukur kinerja perusahaan pada hal-hal
yng menyangkut lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Konsep ini
membantu perusahaan dalam memiliki prinsip yang bagus untuk menjadi perusahaan
yang berkualitas dari mulai tata kelola pembuatan produk sampai dengan produk
yang dihasilkan. Tak hanya itu, prinsip ESG juga memperhatikan tentang sosial
dan lingkungan di luar perusahaan, agar tak hanya menyejahterakan dan
menguntungkan bagi internal perusahaan, tapi juga bagi lingkungan sosial di
luar perusahaan. Prinsip tersebut merupakan hal yang baik dan seharusnya semua
perusahaan memiliki dan memperhatikan prinsip ESG.
Namun
pada kenyataan nya, banyak sekali perusahaan yang mengabaikan prinsip ESG ini,
menjadikan kasus-kasus krisis etika dalam berbisnis semakin banyak. Banyak
ditemukan perusahaan di Indonesia yang mengabaikan prinsip ESG. Contoh kasus
krisis etika perusahaan dalam penyimpangan prinsip ESG pada lingkungan bisa
kita lihat kasus pembukaan lahan hutan secara illegal yang berada di Kalimantan
dan Riau, banyak pembukaan lahan hutan untuk perusahaan membuka lahan
Perkebunan kelapa sawit dengan menggunduli hutan maupun membakar nya secara
illegal. Kasus lain dalam penyimpangan prinsip ESG pada lingkungan terjadi pada
perusahaan yang membuang limbah pabrik tanpa disaring terlebih dahulu, sehingga
mencemari udara dan perairan di sekitar perusahaan. Kasus-kasus seperti ini
merupakan hal yang sangat merugikan lingkungan, perusahaan terus mengabaikan
lingkungan yang seharusnya dirawat, hanya demi keuntungan perusahaan saja. Hal
tersebut tentu merugikan banyak pihak seperti habitat hewan yang terancam,
masyarakat di sekitar pabrik yang merasakan dampak air dan udara yang kotor,
dan masih banyak lagi kerugian yang dirasakan. Tentu dengan kerugian tersebut,
perusahaan tidak merasakanya, namun lingkungan lah imbas dari sikap perusahaan
yang semena mena. Kasus krisis etika dalam penyimpangan prinsip ESG juga pada
kasus sosial, bisa kita temukan kasus seperti eksploitasi tenaga kerja yang
tidak mau memberikan gaji terhadap karyawanya, contoh kasus sosial lain juga
pada perusahaan yang sering mengabaikan hak adat masyarakat lokal, padahal
jelas bahwa masyarakat lokal tersebut lah yang sudah berpuluh-puluh tahun
menempati tempat tersebut. Seharusnya perusahaan harus tetap menghormati hak
adat masyarakat yang sudah terlebih dahulu berada di tempat tersebut.
Perusahaan juga harus mengupah para pekerja nya sesuai dengan kontrak kerja
yang sudah disepakati kedua belah pihak. Satu prinsip terakhir pada ESG adalah
tata kelola, banyak juga kasus krisis etika dalam penyimpangan prinsip ESG tata
kelola, banyak sekali masih ditemukan praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme) baik dalam internal perusahaan maupun praktik di eksternal
perusahaan. Praktik KKN di internal perusahaan menjadi hal yang paling
berpengaruh untuk kondisi keuangan perusahaan, dengan adanya praktik KKN di
internal perusahaan, perusahaan lambat laun akan mengalami kebangkrutan dengan
sendirinya. Praktik KKN di eksternal perusahaan seperti suap menyuap, masih
banyak sekali kasus suap menyuap perusahaan, yang tentunya untuk keuntungan
pribadi perusahaan tersebut. Banyak ditemukan kasus suap untuk mengurus
perizinan operasional perusahaan, kasus suap untuk meloloskan produk atau bahan
baku yang illegal, dan masih banyak lagi. Kasus suap menyuap sangat merugikan
banyak pihak, sebagai contoh menyuap untuk perizinan operasional perusahaan di
daerah tempat tinggal masyarakat yang melibatkan pejabat daerah, tentu dengan
menyuap pihak pemangku kebijakan, dengan leluasa perusahaan akan mendapatkan
perizinan operasional walaupun harus mengorbankan banyak masyarakat yang sudah
bertempat tinggal di daerah tersebut. Hal ini seharusnya tidak boleh dilakukan
karena hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi perusahaan, masyarakat
yang terkena dampak negatifnya.
Beberapa
contoh kasus diatas membuktikan bahwa kasus krisis etika di perusahaan yang ada
di Indonesia banyak terjadi. Krisis etika merupakan tantangan yang harus di
atasi untuk menciptakan perusahaan yang baik dan berkualitas, tentunya
perusahaan tetap mendapatkan keuntungan tanpa merugikan satu pihak pun. Prinsip
ESG merupakan prinsip yang harus dimiliki oleh semua perusahaan untuk mencapai
hal tersebut. Tanpa memiliki prinsip ESG, kasus krisis etika akan sulit untuk
dihilangkan.
Komentar
Posting Komentar