Pengaruh Media Sosial terhadap Terbentuknya Etika Komunikasi Pentingnya Saring sebelum Sharing

 Pengaruh Media Sosial terhadap Terbentuknya Etika Komunikasi 

Pentingnya Saring sebelum Sharing     


Fahranissa Alifazahra 23521115 


    Di era saat ini, penggua media sosial media sosial sangat penting untuk komunikasi dalam kehidupan manusia. Media sosial digunakan untuk berkomunikasi dengan saudara, teman, keluarga, dan orang lain. Kehadirannya menunjukkan kemajuan dalam teknologi komunikasi. Berbagai informasi yang dibagikan melalui media sosial dapat diakses oleh pengguna selama 24 jam. Kemajuan ini telah membawa perubahan besar bagi masyarakat, termasuk di Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk yang beragam dari berbagai ras, suku, dan agama. Kondisi ini menciptakan banyak potensi perubahan sosial. Hampir semua kalangan dan usia di Indonesia, sarana media sosial ini digunakan untuk mendapatkan dan memberikan informasi. Oleh karena itu, media sosial memiliki peran penting di dalamnya. Media sosial memiliki peran penting dalam kegiatan sehari hari. Platform ini merupakan platform digital untuk berinteraksi, berbagi informasi, konten dan komunikasi antar sesama. Media sosial sendiri mencangkup berbagai hal seperti website, aplikasi dan berbaagai konte multimedia. Adapun platform yang digunakan seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok yang dimana aplikasi tersebut menawarkan bebrbaga fitur dan konten menarik, sehingga menajdikan daya tarik bagi pengguna untu berinteraksi (Watie, 2016) 

    Bedasarkan sumber laporan yang diliris oleh We Are Social perkembangan dan penggunaan media sosial di indonesia sekitar 64% pengguna atau sekitar 139 juta identitas pengguna media sosial, dengan rentang usia 16 hingga 60 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa modia sosial merupahan bagian dari kehidupan sehari 2 hari. Saat ini perkembangan media sosial sangat cepat, dikarenakan adanya kemudahan setiap individu untuk memiliki media pribadi. Berbeda dengan televisi, radio, Koran atau iaa disebut media tradisional ini membutuhkan modal yang besar dan banyak tenaga kerja, media sosial dapat diakses hanya dengan jaringan internet dan bisa diakses kapan saja. Hal ini tidak memerlukan biaya mahal atau alat khusus, dan pengguna dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan karyawan. Sebagai pengguna memiliki kebebasan untuk mengedit, menambahkan, dan memodifikasi berbagai jenis konten, seperti teks, gambar, video, grafis, dan banyak konten lainnya. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat tantangan serius terkait etika komunikasi yang harus dihadapi. Penyebaran informasi yang tidak akurat, kebencian, dan perilaku cyberbullying semakin umum terjadi, menciptakan lingkungan yang tidak sehat bagi interaksi sosial. Oleh karena itu, penting untuk memahami peran media sosial sebagai sarana pembangunan etika komunikasi yang baik (Mutiarani et al., 2024).

     Komunikasi meruapakan sarana untuk berinteraksi dengn lingkungan. Seiring perkembangan zaman, nilai-nilai etika dalam interaksi manusia cenderung mengalami penurunan.. Namun, etika seharusnya tidak dibiarka begitu saja. Mengingat dengan adanya penurunan kesadaran terhadap etika. Perkembangan teknologi komunikasi membuka peluang untuk berinteraksi dengan budaya asing. Namun, hal ini sering kali secara tidak langsung menyebabkan kurangnya perhatian terhadap etika dalam ber komunikasi. Untuk menciptakan komunikasi yang efektif dalam lingkungan, sangat penting untuk memahami prinsip-prinsip etika komunikasi yang tepat (Sari, 2020). 

     Di era yang maju saat ini memperhatikan etika dalam berkomunikasi sangatlah penting dan dengan memperhatikan etika dapat memastikan bahwa interaksi kita mencerminkan nilai-nilai moral yang baik. Dengan memahami dan menerapkan prinsip dalam ber etika dapat mnciptakan komunikasi yang lebih sehat dan bermanfaat bagi semua pihak. Seiring dengan meningkatnya penggunaan 3 media sosial, munculah berbagai fenomena sosial yang menantang nilai-nilai kebersamaan, kesopanan, dan nilai-nilai etika yang telah lama menjadi pedoman masyarakat Indonesa. Dulu, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menghargai kesantunan dan penghinaan, namun kini persepsi tersebut mulai berubah di mata dunia, terutama akibat perilaku negatif yang sering muncul di media sosial. Komentar-komentar negatif, kebencian, fitnah, dan perundungan siber menjadi hal yang umum dijumpai di kalangan media sosial saat ini. Konflik di media sosial sering kali tidak hanya sekedar perbedaan pendapat, tetapi juga dipicu oleh perbedaan pandangan politik, agama, suku, atau golongan, yang berpotensi memecah belah masyarakat yang beragam (Lodewyk & Siahaan, 2024). 

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak pengguna media sosial di Indonesia tidak memperhatikan etika komunikasi, seperti meggunakan bahasa yang sopan dan benar, menghargai pendapat orang lain. Hal ini mengakibatkan terjadinya berbagai friksi di antara pengguna media sosial, yang pada akhirnya menimbulkan konflik yang lebih besar di tingkat masyarakat. Dalam konteks hukum, dalam ber etika komunikasi ini terkait dengan norma sosial, tetapi juga dengan sumber hukum seperti moralitas dan kode etik profesi. Profesi hukum seperti pengacara, notaris, dan konsultan hukum memiliki standar etika yang ketat, yang mengatur bagaimana komunikasi dan interaksi dilakukan dalam ruang profesional. Namun, dalam konteks media sosial, standar etika ini masih belum diadopsi secara luas oleh masyarakat umum, terutama oleh mereka yang tidak terikat pada profesi tertentu (Nur & Muttaqin, 2020). 

    Media sosial memainkan peran penting dalam membentuk etika komunikasi di era digital Adanya dampak positif media sosial seperti memperluas jangkauan komunikasi untuk berinteraksi dengan orang, memperkaya perspektif dan pemahaman budaya yang berbeda, meningkatan kesadaran etika dengan meningkatnya penggunaan media sosial, ada dorongan untuk memahami dan 4 menerapkan etika komunikasi yang baik, seperti menghormati privasi orang lain dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Selain dampak positif ada pula ancaman yang bisa terjadi dengan adanya komuniikasi seperti Penggunaan media sosial sering kali disertai dengan pelanggaran etika, dan penyebaran berita palsu. Ini menciptakan lingkungan yang tidak aman dan dapat merugikan individu serta masyarakat secara keseluruhan, kurangnya pengendalian diri banyak pengguna terutama di kalangan mahasiswa, menunjukkan perilaku impulsif dalam berkomentar tanpa mempertimbangkan dampaknya. Hal ini mencerminkan krisis etika komunikasi di ruang publik digital.

     Dengan adanya media sosial ini memiliki pengaruh terhadap etika dalam komunikasi baik dalam kehidupan sosial maupu pribadi. Kehadirannya telah memperluas cakupan komunikasi, memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan individu dari berbagai penjuru dunia. Namun, media sosial juga dapat memicu pelanggaran etika komunikasi. Penggunaan yang tidak bertanggung jawab dapat menimbulkan masalah seperti perundungan online (cyberbullying), trolling, dan spamming. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk selalu menjaga etika komunikasi dalam setiap tindakan dan perkataan. Salah satu dampak negatifnya adalah penggunaannya untuk mengintimidasi, menindas, atau mengancam orang lain, yang bisa menimbulkan rasa tidak aman dan ketidaknyamanan. Selain itu, media sosial juga mempercepat penyebaran berita palsu atau hoaks yang dapat memicu konflik (Asiva Noor Rachmayani, 2015).

     Komunikasi merupakan proses interaksi antara anggota masyarakat yang setidaknya Dalam sebuah interaksi antara dua orang, penting untuk memiliki norma atau aturan yang mengatur untuk menjaga perdamaian dalam masyarakat. Salah satu cara untuk menciptakan aturan ini adalah melalui etika komunikasi, tentang nilai baik dan buruk dalam tindakan komunikasi manusia. Etika ini mendorong manusia untuk berkomunikasi secara baik dan benar. Bahasa yang tidak formal 5 sering ditemukan pada saat komunikasi di media sosial. Hal ini dapat dipengaruhi oleh siapa lawan bicara dan posisi mereka, meskipun banyak juga komunikasi di media sosial yang merupakan kelanjutan dari interaksi di dunia nyata. 

    Etika komunikasi dapat dikenal melalui komunikasi yang santun, yang hal ini dapat mencerminkan dari kepribadian orang. Komunikasi memiliki fungsi utuk menjelaskan suatu karakter, sifat dari seseorang dalam berinteraksi. Dengan komunikasi, kita dapat memahami pikiran, perasaan, dan keinginan orang lain melalui berbagai cara, baik secara lisan maupun non-lisan. Komunikasi akan memiliki nilai yang lebih positif apabia semua pihak yang terlibat memahami dan menguasai teknik komunikasi yang efektif. Dalam berkomunikasi tidak hanya menggunakan kata yang sopan, tetapi juga degan kesabaran, ketahanan dan empat dalam beriteraksi. Jenis komunikasi semacam ini akan menciptakan komunikasi timabal balik dengan saling menghargai antara semua pihak yang terlibat. Saat ini, dalam penyampaian aspirasi menjadi isu penting dalam etika komunikasi. Dan dalam praktiknya sering mendapati perilaku yang kurang santun dalam berkomuniasi.

     Beretika yang baik di media sosial dengan melibatkan beberapa aspek, antara lain: menghindari penggunaan bahasa yang tidak sopan, kasar, atau yang berkaitan dengan SARA. Selain itu, penting untuk tidak menyebarkan informasi yang tidak akuratmenduplikat artikel atau gambar yang dilindungi hak cipta, serta memberikan komentar yang bersifat konstruktif. Dalam konteks etika komunikasi, terdapat prinsip-prinsip penting yang harus diterapkan oleh setiap individuMemanfaatkan teknologi digital dapat meningkatkan komunikasi dan mempertahankan hubungan positif. Namun, sangat penting untuk melindungi privasi dan keamanan seseorang di ruang online. Contohnya adalah menghargai informasi pribadi orang lain dan tidak membagikannya tanpa persetujuan. Selain itu, jangan berbagi informasi yang belum terkonfirmasi dan hindari membuat 6 komentar yang menyinggir, meremehkan, atau mencaci-maki orang lain. Berbicara dengan sopan dan ramah serta berusaha maksimal untuk menghindari kata-kata kasar atau penghinaan yang dapat menyakitinya, seperti bullying, trolling, atau spaming. Berfikir sebelum memposting sesuatu dan melakukan riset ketika akan mengirim sesuatu seperti bisakah posting ini dianggap sebagai oversharing? apakah informasi dalam posting ini telah terdistorsi? apa dampak posting ini terhadap orang lain? Hal ini dilakkukan agar tidak terjadi berita hoax. 

         Cara berkounikasi dapat mencerminkan nilai etika. Dengan memperhatikan etika dalam komunikasi, ini yang menciptakan hubungan baik kepada sesama dengan melakukan berbagai hal seperti berbicara yang sopan dan menghargai pendapat orang lain, menghargai privasi seperti informasi pribasi, data pribadi milik orang lain dan megunakan media sosial dengan bijak dan benar. 7


 DAFTAR PUSTAKA

 Asiva Noor Rachmayani. (2015). Etika Komunikasi dalam Menggunakan Media Sosial ( Instagram ). 6. 

Lodewyk, A., & Siahaan, S. (2024). Pengaruh Perkembangan Media Sosial Terhadap Etika Komunikasi dan Demokrasi Pancasila : Perspektif Hukum di Indonesia. 4(2), 796–801. 

Mutiarani, U. P., Karimah, I. N., & Syarafa, Y. P. (2024). Etika Komunikasi dalam Penggunaan Media Sosial di Kalangan Mahasiswa. Jurnal Harmoni Nusa Bangsa, 1(2). https://doi.org/10.47256/jhnb.v1i2.301 

Nur, I., & Muttaqin, M. N. (2020). Bermedia Sosial dalam Perspektif Maqashid Syari’ah (Membangun Komunikasi di Media Sosial Berdasarkan Etika). Palita: Journal of Social Religion Research, 5(1), 1–14. https://doi.org/10.24256/pal.v5i1.1090

 Sari, A. F. (2020). Etika Komunikasi. TANJAK: Journal of Education and Teaching, 1(2), 127–135. https://doi.org/10.35961/tanjak.v1i2.152 

Watie, E. D. S. (2016). Komunikasi dan Media Sosial (Communications and Social Media). Jurnal The Messenger, 3(2), 69. https://doi.org/10.26623/themessenger.v3i2.270

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-Commerce Syariah Sebagai Implementasi Nyata Etika Bisnis Islam dalam Dunia Digital

ESG dalam Perspektif Islam : Jalan Menuju Bisnis yang Etis dan Berdaya Guna

Transformasi Bisnis dalam Era Digital: Mewujudkan Platform Syariah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan