"Transformasi Bisnis Islam di Era Society 5.0: Antara Krisis Etika dan Inovasi Digital"
"Transformasi Bisnis Islam di Era Society 5.0: Antara Krisis Etika dan Inovasi Digital"
Oleh : Nadia A’yuni Syahidah/235211118
Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
UIN Raden Mas Said Surakarta
Kemajuan teknologi saat ini berkembang dengan sangat pesat, membawa perubahan besar yang menciptakan lanskap ekonomi baru yang dikenal dengan ekonomi 5.0. Revolusi Industri 5.0 atau society 5.0 adalah konsep yang pertama kali diperkenalkan di Jepang dan kini telah menjadi topik global yang menjadi pembahasan signifikan tentang transformasi sosial dan ekonomi di era digital(Anisa Rokhimah, Rita Nurdiana, and Pramono pramono 2024). Society 5.0 merupakan kelanjutan dari society 4.0, yang sebelumnya dikenal sebagai Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 berfokus pada penerapan teknologi digital dan otomatisasi di sektor industri dan manufaktur, sedangkan society 5.0 membawa konsep tersebut lebih jauh lagi dengan mengintegrasikan teknologi digital dalam semua aspek kehidupan sehari-hari, menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dan terhubung secara digital.
Di era digital teknologi memainkan peran penting dalam mentransformasikan perekonomian dan bisnis. Pesatnya perkembangan teknologi mengubah cara kerja dan berpikir perusahaan serta menciptakan peluang dan tantangan baru bagi para pelaku bisnis. Ada banyak macam inovasi teknologi diantaranya kecerdasan buatan (IA), blockchain, dan Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pengembangan model bisnis yang lebih efisien dan inovatif(Jazil and Hendrasto 2021). Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat pada pada Revolusi Industri 5.0 membawa kehidupan masyarakat terpusat pada aktivitas manusia dan dunia digital. Hal ini telah membawa suatu perubahan yang sangat besar dalam lini kehidupan, termasuk salah satunya yang terpengaruh adalah dunia bisnis. Perubahan tersebut dapat menimbulkan berbagai macam tantangan baru bagi bisnis, salah satunya adalah tantangan etika bisnis.
Di era revolusi industri 5.0 ada berbagai macam tantangan etika bisnis diantaranya adalah mulai maraknya transaksi digital yang dapat menimbulkan risiko penipuan dan pencurian data(Tanjung, Rukanda, and Amalia 2023). Saat ini banyak orang lebih suka melakukan transaksi secara online yaitu dengan transaksi digital sehingga membuat konsumen lebih rentan terhadap penipuan dan pencurian data. Ini disebabkan karena dalam melakukan transaksi antara konsumen dan penjual tidak dapat bertemu dan berinteraksi secara langsung dan konsumen juga tidak dapat melihat dengan langsung barang atau jasa yang akan dibeli. Adapun tantangan etika bisnis yang lain yaitu perkembangan AI yang mana ini dapat menggantikan tenaga kerja manusia.
Menerapkan etika bisnis bukan hanya merupakan kewajiban moral, akan tetapi adalah juga merupakan strategi cerdas yang bisa dilakukan oleh perusahaan dalam menjaga nama baik atau reputasi, menciptakan hubungan yang baik dengan pelaku bisnis lain, serta mencapai kesuksesan jangka panjang(Safira, Surenggana, and Purwanto 2024). Perusahaan perlu memperhitungkan konsekuensi lingkungan dan sosial dari aktivitas bisnis mereka dan menghindari aktivitas yang mampu menciptakan aktivitas yang dapat merugikan masyarakat secara keseluruhan.
hal ini demi dapat mempertimbangkan dampak jangka panjang dari suatu keputusan bisnis. Dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dan tantang serta peluang dalam etika bisnis islam dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang kerangka etika bisnis di era society 5.0 yang diharapkan bias memberikan pedoman untuk para pelaku bisnis dan pemangku kepentingan dalam mencapai tujuan bisnis secara berkelanjutan(Anisa Rokhimah, Rita Nurdiana, and Pramono pramono 2024).
Etika bisnis merupakan penerapan pengetahuan mengenai berbagai jenis bisnis. Islam memiliki paradikma tentang etika bisnis yaitu berkaitan dengan hubungan antara manusia terhadap Tuhannya, manusia lain, dan lingkungannya. Ini menunjukan bahwa etika bisnis islam harus mempunyai visi yang baik didunia dan di akhirat, yang menjadi sadar penting dalam ekonomi islam. Etika bisnis islam merupakan aktivitas seseorang dalam membuat dan mengelola bisnis dengan mengutamakan etika atau moral demi memperoleh keuntungan untuk individu atau kelompok dengan berlandaskan nilai-nilai syariat(Hushein 2023). Bisnis dan etika adalah suatu alat hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Maka dari itu etika bisnis tidak lepas dari nilai-nilai agama yang menjadi dasar tindakan bisnis yang membatasi kegiatan yang dapat menciptakan sisi negative seperti diantaranya penipuan online, pencurian data, serta perilaku konsumen dan lainnya harus menjadi persiapan dalam menghadapi berbagai tantangan etika bisnis islam terutama di era society 5.0 ini. Etika bisnis islam merupakan system etika yang mengatur perilaku bisnis berdasarkan nilai-nilai islam serta berpijak pada pilar-pilar etika bisnis islam yaitu keadilan, kejujuran, dan bertanggungjawab(S et al. 2024).
Pertama ada keadilan, secara harfiah keadilan merupakan kumpulan nilai moral dan social yang menunjukan keseimbangan, keyakinan, kesederhanaan, serta keadilan itu sendiri. Sedangkan dalam ilmu hadist keadilan diartikan sebagai suatu sifat yang ada pada jiwa seseorang untuk menjaga tetap bertaqwa dan menjaga harga diri, serta didalam keadilan didalamnya tidak ada pihak yang dirugikan dalam situasi tertentu, dan keadilan ini merupakan nilai yang penting di dalam etika bisnis islam. Sebagaiman dalam Q.S. Al-Maidah ayat 8 menjelaskan bahwa orang yang bertindak dengan adil maka hal itu dapat mendekatkan diri pada kebaikan dan ketaqwaan. Jadi keadilan dapat membantu bisnis dalam menciptakan lapangan kerja yang adil, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjaga dari krisis etika yang akan merugikan bisnis.
Selanjutnya kejujuran. Kejujuran adalah pondasi awal dari sifat yang bias diteladani dari Rasullulah. Sebelum singkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad mendapat gelar Shidiq merupakan perkataan yang sesuai dengan kebenaran. Kejujuran merupakan suatu nilai dasar etika bisnis islam yang penting serta dapat mencegah krisis etika dan sangat dibutuhkan di zaman ini, dimana sekarang sudah banyak adanya penipuan online yang tentunya sangat merugikan banyak orang. Ada banyak manfaat dari kejujuran di dalam bisnis diantara membantu menjaga kepercayaan konsumen sampai menjamin keamanan data pribadi.
Kemudian ada tanggung jawab dapat didefinisikan sebagai konsep yang memiliki implikasi penting tentang kemampuan dalam menggung segala bentuk konsekuensi dari tindakan-tindakan serta ucapan yang sudah dilaksanakan. Tanggung jawab dapat membantu bisnis dalam menjaga kelestarian lingkungan sehingga dapat berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Orang harus bertanggung jawab terhadap pilihannya sekecil apapun tanggung jawab itu sebagaimana yang tertuang dalam Q.S. Al-Mukminun ayat 8-11.
Dengan menerapkan nilai-nilai etika islam dapat membatu bisnis dari perilaku dan etis serta tanggung jawab dalam menjawab tantangan-tantangan yang terjadi di era society 5.0 ini. Bisnis dapat memanfaatkan inovasi digital dalam meningkatkan keamanan transaksi, menciptakan lapangan pekerjaan yang ramah lingkungan, serta dengan inovasi digital dari teknologi digital dapat membantu bisnis dalam mengembangkan produk atau layanan yang berkelanjutan dan tentunya memiliki kebermanfaatan yang luas(Safira, Surenggana, and Purwanto 2024).
Krisis etika dalam bisnis islam di era society 5.0 mengingatkan akan pentingnya menerapkan prinsip-prinsip syariah yang tidak hanya secara teologis tetapi juga secara praktis di dunia bisnis yang semakin berkembang pesat ini. Dalam mengahadapi zaman dimana perkembangan teknologi sedang sangat pesat dan perubahan social yang sangat cepat, bisnis islam memiliki peluang yang besar untuk tumbuh, tentunya dengan tetap menjaga etika dan prinsip yang sesuai dengan ajaran islam. Bisnis yang berbasis pada keadilan, kejujuran, dan tanggungjawab social merupakan landasan utama dalam menciptakan ekosistem bisnis yang sehat, berkelanjutan serta bermanfaat bagi semua pihak.
Harapan ke depan adalah bisnis islam dapat menjadi contoh nyata bagaimana dunia usaha dapat berjalan selaras tentunya dengan menerapkan nilai-nilai etika islam yang tinggi serta tetap mengutamakan inovasi dan kemajuan teknologi. Dengan menjaga etika terutama dalam berbisnis dapat memainkan peran penting dalam menciptakan dunia usaha yang lebih adil, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi semua, serta mampu menjawab berbagai tantangan dari krisis etika.
Daftar Pustaka
Anisa Rokhimah, Rita Nurdiana, and Pramono pramono. 2024. “Transformasi Bisnis Menuju Ekonomi 5.0: Strategi Adaptasi Dan Inovasi.” Jurnal Kajian Dan Penalaran Ilmu Manajemen 2 (2): 101–9. https://doi.org/10.59031/jkpim.v2i2.408.
Hushein, Imron A. 2023. “Etika Bisnis Islan Dalam Era Revolusi Industri 5.0.” ICHES: International Conference on Humanity Education and Sosial 2 (1): 11.
Jazil, Thuba, and Nur Hendrasto. 2021. “Prinsip & Etika Bisnis Syariah.” Institut Tazkia,Kneks,Ekonomi Syariah, 1–66. https://kneks.go.id/storage/upload/1686216705-Prinsip & Etika Bisnis syariah.pdf.
S, Dawam Sahrin Najah, Universitas Pembangunan, Nasional Veteran, Jawa Timur, Muhammad Ryan N Z, and Sabrina Indira. 2024. “DAN BISNIS DI ERA DIGITAL Universitas Pembangunan Nasional ‘ Veteran ’ Jawa Timur Universitas Pembangunan Nasional ‘ Veteran ’ Jawa Timur” 1 (5): 8–16.
Safira, Nimas Natasha Ayu, Muhammad Sang Adhi Surenggana, and Eko Purwanto. 2024. “Penerapan Etika Bisnis Di Era Society 5.0: Studi Literatur Mengenai Tantangan Dan Peluang Ke Praktik Bisnis Berkelanjutan.” Seminar Nasional Hukum, 60–67. https://www.ojs.udb.ac.id/index.php/HUBISINTEK/article/view/3508%0Ahttps://www.ojs.udb.ac.id/index.php/HUBISINTEK/article/download/3508/2407.
Tanjung, Iqbal, Doni Rukanda, and Desy Amalia. 2023. “Tantangan Etika Bisnis Islam Dalam Pergulatan Etika Bisnis Global.” EBISA : Jurnal Ekonomi Bisnis Islam 3 (12): 11437–48.
Komentar
Posting Komentar